Senin, hari pertama masuk di Sma Negeri 1 Pelabuhanratu, semua murid dikumpulkan di lapangan, entah untuk apa aku di kumpulkan dengan semua teman satu angkatan di lapang futsal tanpa atap ini, disini hanya ada satu pohon beringin besar,kehadiran nya di atas tribun berdiri dengan gopoh, melindungi sebagian tribun dari panas nya sinar matahari yang datang malu-malu, di depan pandangan hanya ada kawat yang terpampang di antara tiang-tiang besi, disitu juga keberadaan seorang ibu guru di baluti kain kemegahanya si coklat, kerudung menutupi sebagian badanya sampai ke pinggang.
Di titik temu barisan tribun terpancar sinar dari wajah yang tak asing lagi dalam ingatan, Cania Prameswari, nama yang selalu hadir dalam bait doa di sepanjang malam curhatan ku pada Maha Pencipta. Tingginya mungkin tak menyentuh 1,6 meter, dengan mata bulat di baluti dengan kelopak menyudut tajam disampingnya, badan yang tak bisa dikatakan besar dan tidak kecil juga, dengan pipi yang lumayan chubby, hidung nya tak mirip paruh bangau, yang selalu membuat betah berlama-lama untuk sekedar menatap wajahnya. Dia teman semasa di sekolah dasar, lahir di sebuah ibu kota pulau sulawesi, dibesarkan di pulau jawa. Bapaknya asli sulawesi dan ibunya asli pulau jawa, mempunyai dua saudara perempuan dan satu saudara pria, anak ketiga dari empat bersaudara.
tanpa sadar teman disamping ini masih saja menanyakan yang tak perlu, seorang sunda, teman satu kampung, syahril namanya. nan, ayo masuk kelas, hah memangnya aku masuk kelas mana?, gimana sih, kita kan satu kelas, oalah gitu yaudah ayo. Beriringan dengan kepergian semua siswa seperti segerombolan semut yang sarang nya ditumpahi air.
Saat itu aku tau, ternyata perempuan yang sedari tadi ku pandangi, bakal jadi teman satu kelasku dalam tiga tahun mendatang, hurrayyy ku ucap dalam hati, perasaan senang dan bingung tentang bagaimana aku akan kikuk menghadapinya. sosok cania memang tak pernah luput dalam ingatan ini, disaat orang beranggapan aku dan cania sempat punya hubungan istimewa di waktu dulu, ku jelaskan, itu semua omong kosong, yang benar hanya aku yang menganggap dia istimewa, tanpa sebaliknya. hanya aku yang berharap mempunyai hubungan istimewa dengannya, tidak dengan dia, itu hanya omong kosong, dan omong kosong lagi ketika aku tak bisa membela diri dari asumsi orang lain terhadapku dan cania.
Kebanyakan teman-temanku berkumpul disudut depan kelas, menghabiskan sebagian kursi yang berhadapan dengan meja guru. Dalam kelas baruku ini, hampir semuanya aku kenal, kebanyakan dari mereka adalah teman semasa sekolah dasar dan sekolah menengah pertamaku, walaupun kita memang tidak terlalu dekat, tapi kita saling kenal. Deretan kursi paling belakang sangat bising, hanya dengan tiga orang. Gama, Banu, dan Guntur, dari mereka bertiga aku hanya mengenal Gama dan Banu, mereka berdua satu smp denganku, Guntur sosok pendiam yang sedang diolok-olok oleh mereka berdua, dia yang diolok-olok hanya membalas dengan tertawa. Dua baris dibelakang tempat dudukku, ialah kursi cania dan puri, merka berdua asik dengan lamunan masing-masing, sesekali berbincang dan hening kembali oleh lamunan mereka. Dihari pertama sekolah ini, usai tanpa kehadiran guru, walau hanya untuk memberi sekedar wejangan.
Komentar
Posting Komentar